BELAJAR MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN BAGI SISWA KELAS RENDAH MENGGUNAKAN MEDIA KOMPUTER

Standar

Pendahuluan

Pendidikan adalah usaha sadar dan sistemastis, yang dilakukan orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi peserta didik agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan (Achmad Munib, 2004:34). Pendidikan ialah pimpinan yang diberikan dengan sengaja oleh orang dewasa kepada anak-anak, dalam pertumbuhannya (jasmani dan rohani) agar berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat (M. Ngalim Purwanto, 2002:10)..Untuk itu mereka harus disiapkan sejak dini agar mempunyai kemampuan, karakter dan kepedulian terhadap perkembangan bangsa dan negaranya (Izhar, 1998).

Salah satu kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik adalah kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan membaca dan menulis merupakan bekal utama bagi peserta didik untuk dapat memahami mata pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah (Stephens, 2004). Kemampuan ini dapat mulai pada kelas rendah. Namun, cara belajar membaca dan menulis tradisional yaitu dengan menggunakan pensil dan kertas dinilai relatif kurang diminati oleh peserta didik. Indikasi ini dimungkinkan karena faktor belajar peserta didik yang kurang efektif, bahkan peserta didik sendiri tidak merasa termotivasi di dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Peserta didik cenderung lebih suka bermain dengan warna, gambar, suara, lagu dan mendengarkan cerita daripada belajar dengan cara tradisional (Izhar, 1998).

Berangkat dari hal tersebut pembelajaran  interaktif dalam kelas perlu dikembangkan atas dasar asumsi bahwa proses komunikasi di dalam pembelajaran akan lebih bermakna (menarik minat siswa dan memberikan kemudahan untuk memahami materi karena penyajiannya yang interaktif), jika memanfaatkan berbagai media sebagai sarana penunjang kegiatan pembelajaran. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk membantu meningkatkan minat dalam belajar membaca dan menulis adalah dengan menggunakan perangkat lunak pembelajaran berbasis komputer (Macaruso, and Adelaide, 2008). Dengan pembelajaran berbasis computer, materi dapat disampaikan dalam bentuk permainan yang disertai dengan gambar, suara, animasi dan permainan warna, sehingga siswa merasa sedang bermain walaupun sebenarnya meraka sedang proses belajar.

Tujuan

Berdasarkan pada permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan dua tujuan utama dari makalah ini, yaitu:

1. Memotivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran didalam kelas dengan memanfaatkan komputer

2. Merekomendasikan kepada pendidik untuk menerapkan komputer multimedia pembelajaran interaktif sebagai alternatif pembelajaan yang mengasikkan dan menyenangkan.

 

Manfaat

Manfaat yang diharapkan dari penyusun terhadap penulisan makalah  ini adalah sebagai berikut :

1. Secara teoritis diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan pengembangan Multimedia Pembelajaran Interaktif guna meminimalisasi kejenuhan dan kebosanan dalam pembelajaran konvensional di kelas.Yang mengakibatkan motivasi belajar siswa menjadi berkurang untuk memahami materi yang diberikan guru.

2. Secara praktis selanjutnya diharapkan konsep pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif dapat direkomendasikan sebagai inovasi dalam dunia pendidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Dan akhirnya pembelajaran akan menjadi lebih berkualitas di bandingkan pembelajaran secara konvensional.

 

Media Pendidikan

Kata media berasal dari bahasa Latin yang adalah bentuk jamak dari medium, namun kita membatasi pada media pendidikan saja yakni media yang digunakan sebagai alat dan bahan kegiatan pembelajaran.

Mengapa harus dibutuhkan media di dalam proses pembelajaran?  Pertanyaan yang sering muncul adalah mempertanyakan pentingnya media dalam sebuah pembelajaran. Sebelumnya, Kita harus mengetahui terlebih dulu konsep abstrak dan konkrit dalam pembelajaran. Karena proses belajar mengajar hakekatnya adalah proses komunikasi, penyampaian pesan dari pengantar ke penerima. Pesan berupa isi/ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi baik verbal (kata-kata dan tulisan) maupun nonverbal, proses ini dinamakan encoding. Penafsiran simbol-simbol komunikasi tersebut oleh siswa dinamakan decoding.

Dalam penafsiran tersebut ada kalanya berhasil, dan adakalanya tidak berhasil atau gagal. Dengan kata lain dapat dikatakan kegagalan /ketidakberhasilan dalam memahami apa yang didengar, dibaca,dilihat atau diamati. Kegagalan/ketidakberhasilan itu di sebabkan oleh gangguan yang menjadi penghambat komunikasi yang dalam proses komunikasi dikenal dengan istilah barriers atau noise. Semakin banyak verbalisme semakin abstrak pemahaman yang diterima. Lantas dimana fungsi media? Ada baiknya             kita melihat diagram cone of learning dari Edgar Dale yang secara jelas memberi penekanan terhadap pentingnya media dalam pendidikan:

Secara umum dapat dikatakan media mempunyai kegunaan, antara

lain:

1)      Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.

2)      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.

3)      Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.

4)      Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori & kinestetiknya.

5)      Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman & menimbulkan persepsi yang sama.

Karakteristik dan kemampuan masing-masing media perlu diperhatikan oleh guru agar mereka dapat memilih media mana yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

 

Media Berbasiskan Komputer

Bentuk interaksi yang dapat diaplikasikan(Heinich,et.al 1996):

Praktek dan latihan (drill & practice)

• Tutorial

Permainan (games)

Simulasi (simulation)

Penemuan (discovery)

Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Kemajuan media komputer memberikan beberapa kelebihan untuk kegiatan produksi audio visual. Pada tahun-tahun belakangan komputer mendapat perhatian besar karena kemampuannya yang dapat digunakan dalam bidang kegiatan pembelajaran. Ditambah dengan teknologi jaringan dan internet, komputer seakan menjadi primadona dalam kegiatan pembelajaran.

Dibalik kehandalan komputer sebagai media pembelajaran terdapat beberapa persoalan yang sebaiknya menjadi bahan pertimbangan awal bagi pengelola pengajaran berbasis komputer:

1)   Perangkat keras -dan lunak- yang mahal dan cepat ketinggalan jaman

2)   Teknologi yang sangat cepat berubah, sangat memungkinkan perangkat yang dibeli saat ini beberapa tahun kemudian akan ketinggalan zaman.

3)   Pembuatan program yang rumit serta dalam pengoperasian awal perlu pendamping guna menjelaskan penggunaannya. Hal ini bisa disiasati  dengan pembuatan modul pendamping yang menjelaskan penggunaan dan pengoperasian program.

 

Pengajaran Membaca dan Menulis Permulaan di Kelas Rendah

Kegiatan menulis peserta didik sekolah dasar masih rendah dibandingkan kegiatan berbahasa lainnya yaitu berbicara, membaca, dan menyimak. Dari hasil studi pendahuluan diketahui bahwa. kemahiran membaca dan menulis peserta didik sangat ditentukan oleh kemampuannya saat belajar membaca dan menulis permulaan. Pelajaran membaca dan menulis permulaan mengajarkan:

1)        pengenalan huruf dan rangkaiannya, seperti: suku kata, kata, dan kalimat;

2)        cara menulis huruf, suku kata, kata dan kalimat pendek dengan benar.

Jadi pelajaran membaca dan menulis permulaan bertujuan untuk memberikan kemampuan mengenal huruf dan mengubahnya menjadi rangkaian bunyi yang bermakna serta melancarkan teknik membaca pada anak-anak (Purwanto dan Alim 1997).

Pelajaran membaca dan menulis permulaan biasanya dimulai dengan tulisan. Ada beberapa alasan mengapa pelajaran membaca permulaan menggunakan tulisan (Burns, Roe, dan Ross, 1984). Alasan pertama adalah pengenalan tulisan sejak awal dapat membuat anak memiliki pengalaman membaca yang baik dan memberikan pengaruh sikap yang baik dalam membaca.Kedua, anak dapat mulai menyadari bahwa tulisan merupakan rekaman bunyi yang teratur. Alasan ketiga, bagi pembaca pemula, kata-kata lebih mempunyai arti daripada dihafalkan. Selain dari ketiga alasan di atas ada beberapa alasan lain yaitu dengan menggunakan tulisan anak akan mempunyai tambahan pengetahuan bahwa membaca tulisan dan menulis dalam bahasa Indonesia itu harus dilakukan dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, mengenal kata-kata yang sering digunakan dan pengalaman-pengalaman baru lainnya yang tanpa disadari oleh si anak dan tanpa dipaksakan sudah terekam di otaknya (Burns,dkk., 1984).

Pengenalan bentuk dan nama huruf yang diajarkan kepada peserta didik digunakan sebagai acuan kesamaan antara guru dengan peserta didik. Huruf yang diajarkan harus dimulai dengan huruf dari kata-kata yang sederhana dan sering digunakan oleh peserta didik atau sudah dikenal peserta didik, Huruf yang hampir sama atau bentuknya berbalikan, seperti huruf b dan d tidak boleh diajarkan pada waktu yang sama karena dapat membingungkan peserta didik.Yang penting di sini adalah peserta didik tidak boleh dipaksa untuk menghafalkan bentuk huruf-huruf alphabet karena akan sangat membosankan dan menyiksa bagi pembaca pemula sehingga tujuan yang ingin dicapai sulit terpenuhi (Burns, dkk., 1998).

Selain pengenalan huruf, kemampuan untuk membedakan tulisan secara visual juga perlu dikembangkan sebelum peserta didik mulai mempelajari tulisan. Kemampuan ini dapat diasah dengan menunjukkan dua tulisan kata-kata yang hampir sama dengan disertai gambar,. Melalui dua kata ini diharapkan peserta didik memperhatikan detail setiap huruf yang menyusun kata (Burn, dkk., 1998).

Mengajar membaca dan menulis permulaan, seorang guru harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :. 1) Perpindahan materi dapat dilakukan jika peserta didik dirasa sudah mampu untuk mengikuti materi selanjutnya. 2) Jika ada materi yang belum dapat dikuasai oleh peserta didik maka harus diulang dengan cara yang lebih sederhana dan menyenangkan untuk menghilangkan kebosanan dan  frustasi. Berdasarkan hal tersebut mengajarkan membaca dan menulis permulaan, seorang pengajar tidak boleh dibatasi oleh target waktu pertemuan yang dapat menyebabkan pengajar kurang memperhatikan kemampuan peserta didik karena terlalu fokus ke target waktu yang sudah ditentukan tersebut.

Agar materi yang diberikan lebih mudah dan cepat dikuasai oleh peserta didik maka pengajar harus memiliki persiapan sebelum mengajar. Persiapan ini harus disesuaikan dengan perkembangan psikologi peserta didik, merencanakan pendekatan yang perlu dilakukan, melakukan evaluasi terhadap tingkat penguasaan peserta didik dan menpersiapkan pengayaan dan perbaikan yang perlu dilakukan.

Dengan mengetahui perkembangan psikologi peserta didik,diharapkan guru dapat lebih bijaksana dalam menghadapi dan memberikan pendekatan pada anak selama belajar. Alat peraga yang dapat digunakan untuk membantu penyampaian materi agar peserta didik lebih mudah menerima materi yang diberikan.

Proses belajar mengajar dibagi menjadi tiga tahap, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan awal bertujuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik, menarik perhatian, mengaitkan dengan pelajaran sebelumnya, menjelaskan apa yang diketahui dan bagaimana cara mengetahuinya serta menyamakan persepsi antara peserta didik dengan guru mengenai materi yang akan dipelajari. Kegiatan inti bertujuan agar peserta didik mengetahui, memahami, dan mempunyai kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan pelajaran. Kegiatan penutup bertujuan untuk memperkuat perubahan tingkah laku yang terjadi pada peserta didik yaitu dari tidak tahu menjadi tahu dan mampu mengeluarkan pendapat. Kegiatan awal merupakan pintu bagi pengajar untuk masuk ke kegiatan inti sedangkan kegiatan penutup merupakan penegasan dari tujuan pelajaran tersebut.

Evaluasi digunakan untuk menilai apa yang seharusnya dinilai. Dari hasil evaluasi dapat diketahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi dan apa yang menjadi kelemahan peserta didik dalam mempelajari materi tersebut. Hasil evaluasi ini dapat digunakan oleh pengajar untuk melakukan perbaikan yang diperlukan.Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sebaiknya evaluasi dilakukan dari awal sampai akhir dengan menggunakan alat pengukur evaluasi yang tepat.

ALAT PEMBELAJARAN

Agar proses pembelajaran berhasil dengan baik , maka sebaiknya guru dalam membuat alat bantu pengajaran perlu mengakomodasi kebutuhan peserta didik dengan memperhatikan beberapa hal :

1. Peserta didik kelas rendah tahun pertama lebih mudah belajar membaca dan menulis dengan menggunakan media gambar, cerita, lagu, atau suara dibandingkan dengan menggunakan buku acuan yang dijual di toko-toko ataupun menggunakan buku tulis.

2. Pelajaran membaca dan menulis seharusnya diajarkan di TK, sehingga pada saat memasuki  SD kelas 1 mereka sudah siap mengikuti pelajaran  terutama pada pelajaran yang membutuhkan kemampuan membaca dan menulis yang baik.

3. Peserta didik kelas rendah tahun pertama membutuhkan pendamping dalam belajar membaca dan menulis.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan permasalahan di atas dapat disimpulkan bahwa yang menjadi kebutuhan pemakai adalah sistem yang dapat menyampaikan materi dengan cara yang menarik (melalui gambar, lagu,cerita dan suara) yang dapat membantu siswa belajar membaca dan menulis dengan lancar, menggunakan kata-kata yang sederhana, sehingga anak tidak mengalami kesulitan pada saat harus merangkai beberapa huruf menjadi suku kata dan merangkai suku kata menjadi kata. Selain itu, sistem harus mampu menyediakan fasilitas untuk menguji tingkat kemampuan siswa. Yang paling penting dari semuanya, sistem harus dibuat sedemikian rupa,sehingga anak tidak merasa bosan pada saat belajar membaca dan menulis.

Setelah analisis selesai dilakukan berikutnya dilakukan desain. Desain yang dilakukan meliputi 1) desain model sistem perangkat ajar, 2) desain model dialog, 3) desain struktur perangkat ajar yang meliputi karakteristik sistem perangkat ajar, 4) metode      pengajaran dan struktur materi, 5) desain data, dan 6) desain antar muka.

Pada perangkat lunak yang dibuat, desain model sistem perangkat ajar yang digunakan adalah model tutorial. Model tutorial merupakan cara menyampaikan materi yang dikontrol oleh perancang untuk mempresentasikan bahan bahan materi ke siswa secara bertahap dan teratur dengan penjelasan dan contoh pemecahan masalah. Sedangkan, model dialog yang digunakan adalah model dialog bertingkat, karena sistem ini membagi materi menjadi beberapa tingkat kesulitan, sehingga pengajar atau siswa dapat menentukan tingkat materi yang diinginkannya. Sistem perangkat ajar dirancang secara khusus untuk anak enam sampai tujuh tahun yang tidak mempunyai masalah keterlambatan belajar.   Pertama-tama materi disampaikan dalam bentuk gambar disertai dengan kata-kata sederhana yang sudah dikenal anak dalam kehidupan sehari-hari kemudian dilanjutkan dengan menggunakan gambar dan cerita pendek.

Hasil dari desain berupa :

Gambar 1 Pengenalan huruf abjad

Gambar 2 Cara penulisan huruf yang benar

Gambar 3. Contoh Soal Latihan

Gambar-gambar tersebut kemudian diimplementasikan dengan menggunakan Macromedia Director 8.5, Wave Studio dari Creative Sound Blaster AudioPCI 128, Adobe Photoshop 6.0 dan Adobe ImageReady 3.0.

Hasil implementasi setelah dipastikan bebas error dievaluasi dengan menggunakan metode “One group pretest-posttest design”, yaitu membandingkan hasil tes anak sebelum menggunakan

aplikasi dan sesudah menggunakan aplikasi.

 

SIMPULAN

Perangkat ajar yang dibuat cukup membantu peserta didik tahun pertama di kelas rendah untuk belajar membaca dan menulis permulaan.

RUJUKAN

Anas, Yusuf. (2007). Pembelajaran dan Instruksi pendidikan. Yogyakarta:IRCiSoD.

Burns, P.C., Roe, B.D., and Ross, E.P. 1984. TeachingReading Today’s In Elementary Schools. Third Edition. Dallas Geneva, Illinois Hopewell, New Jersey Palo Alto: Houghton Mifflin Company Boston.

Dardjowidjojo, S. 2000. ECHA Kisah Pemerolehan BahasaAnak Indonesia. Unika Atma Jaya. Jakarta: PT.Gramedia Widiasarana Indonesia.

Green L (1996). Creatives Silde/Tape Programs. Colorado: Libraries Unlimited,Inc. Littleton.

Hartoyo.2010, Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam Pembelajaran. Semarang: Pelita Insani

Heinich, R., et. al. (1996) Instructional Media and Technologies for Learning.New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.

Izhar, S. 1998. Unit Pendidikan Pra Sekolah. (Online) (http://members.tripod.com/ip_ipda/unit_pra.htm) diakses tanggal 8 Agustus 2008.

Kurniawan, C., Yohanes, B., dan Limanto, S. 2002. AplikasiCAL dalam Pembelajaran Membaca dan MenulisPermulaan untuk Anak Pra Sekolah. Surabaya:Universitas Surabaya.

Macaruso, P., and Adelaide, W. 2008. The Efficacy ofComputer-Assisted Instruction for AdvancingLiteracy Skills in Kindergarten Children. ERIC (Education Resources Information Center).(Online) (http://eric.ed.gov/ERICWebPortal/ c us tom/p o r t l e t s / r e c o r dDe t a i l s d e t a i l mini.jsp?_nfpb=t rue&_&ERICExtSearch _SearchValue_0=EJ799232&ERICExtSearch_SearchType_0=no&accno=EJ799232) diakses tanggal 8 Agustus 2008.

Minib, Achmad (2004). Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang: UPT MKK UNNES.

Purwanto, M.N., dan Alim, D. 1997. MetodologiPengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Jakarta: PT. Rosda Jayaputra.

———– (2002). Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung:  PTRemaja Rosdakarya.

Stephens, K. 2004. Creative Ways to Lead Kids to Readingand Writing. Parenting Exchange. Diambil dari (Online) (http://www.oh-pin.org/articles/pex-06-creative-ways-to-lead-kid.pdf) diakses tanggal 8 Agustus 2008.

Diposted : 9 Agustus 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s